Rabu, 03 April 2019

WIRAUSAHA : PROFIL WIRAUSAHA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kewirausahaan (Entrepreneurship) adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian.
Wira usaha secara hipotesis sudah di kenal sejak dierkenalkan oleh Richard castillon pada tahun 1755.Beberapa istilah wirausaha seperti di belanda di kenal dengan ondernemer, di jerman di kenal dengan unternehmer. Pendidikan kewirausahaan mulai dirintis sejak 1950-an di beberapa negara seperti Eropa, Amerika, dan Kanada. Bahkan sejak 1970-an banyak universitas yang mengajarkan kewirausahaan atau manajemen usaha kecil. Pada tahun 1980-an, hampir 500 sekolah di Amerika Serikat memberikan pendidikan kewirausahaan. Di Indonesia, kewirausahaan dipelajari baru terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja. Sejalan dengan perkembangan dan tantangan seperti adanya krisis ekonomi, pemahaman kewirausahaan baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan-pelatihan di segala lapisan masyarakat kewirausahaan menjadi berkembang.
Orang yang melakukan kegiatan kewirausahaan disebut wirausahawan. Muncul pertanyaan mengapa seorang wirausahawan (entrepreneur) mempunyai cara berpikir yang berbeda dari manusia pada umumnya. Mereka mempunyai motivasi, panggilan jiwa, persepsi dan emosi yang sangat terkait dengan nilai nilai, sikap dan perilaku sebagai manusia unggul.


B.     Rumusan Masalah
1.       Apa yang dimaksud  dengan Profil Wirausaha ?
2.       Apa yang dimaksud dengan Fungsi makro dan mikro dalam kegiatan ekonomi ?
3.      Apa yang di maksud dengan Tantangan kewirausahaan dalam konteks global ?
C.     Tujuan
1.         Mengetahui mengetahui profil wirausaha.
2.         Mengetahui fungsi makro dan mikro dalam kegiatan ekonomi.
3.         Mengetahui tantangan kewirausahaan dalam konteks global.




















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Profil Wirausaha
            Menurut Roopke dikutip Suryana (2001) profil wirausaha dapat dijabarkansebagai berikut :
1.      Kewirausahaan Rutin ( wirt)
      Wirausaha yang melakukan kegiatan sehari-harinya cenderung menekankan pada pemecahan masalah dan perbaikan standar prestasi tradisional.Fungsi wirausaha rutinadalah mengadakan perbaikan perbaikan terhadap standar tradisional, bukan penyusunan dan pengalo-kasian sumber sumber. Wirausaha ini berusaha untukmenghasilkan barang, pasar, dan teknologi.
2.      Kewirausahaan Arbitase           
      Wirausaha yang selalu mencari peluang melalui kegiatan penemuan (pengetahuan)dan pemanfaatan (pembukaan). Kegiatan kewirausahaan ini tidak perlu melibatkan pembuatan barang dan tidak perlu menyerap dana pribadi wirausaha, kegiatan-nyaadalah spekulasi dalam memanfaatkan perbedaan harga jual dan harga beli.
3.      Kewirausahaan Inovatif
     Wirausaha dinamis yang menghasilkan ide-ide dan kreasi-kreasi baru yang berbeda,ia merupakan promotor, tidak saja dalam memperkenalkan teknik dan produk baru,tetapi juga dalam pasar dan sumber pengadaan (pembekalan), peningkatan teknikmanajemen, dan metode distribusi baru. Ia mengadakan proses dinamis pada produk, proses, hasil, sumber pembekalan, dan organisasi yang baru.
Sedangkan Zimmerer (1996) mengelompokkan profil wirausaha sebagai  berikut :
a.       Part-  time entrepreneur yaitu wirausaha yang hanya setengah waktumelakukan usaha , biasanya sebagai hobi. Kegiatan usahanya hanya bersifat sampingan
b.      Home- based new ventures yaitu usaha yang dirintis dari rumah / tempattinggal
c.       Family- owned business yaitu usaha yang dilakukan / dimiliki oleh beberapa anggota keluarga secara turun temurun.
d.       Copreneurs yaitu usaha yang dilakukan oleh dua orang wirausaha yang bekerja sama sebagai pemilik dan menjalankan usahanya bersama-sama

B.     Makro dan Mikro Dalam Kegiatan Ekonomi
Fungsi dan peran wirausaha dapat dilihat melalui dua pendekatan, yaitu secara mikro dan makro.Secara mikro, wirausaha memiliki dua peran, yaitu sebagai penemu (inotovator) dan perencana (planher). Sebagai penemu, wirausaha menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru, seperti produk, teknologi, cara, ide, organisasi, dan sebagainya. Sebagai perencana, wirausaha berperan meracang tindakan dan usaha yang baru, merencanakan strategi usaha yang baru, merencanakan ide-ide dan peluang dalam meraih sukses, menciptakan organisasi perusahaaan yang baru, dan lain-lain. Secara makro, peran wirausaha adalahmenciptakan kemakmuran, pemerataan kekayaan, dan kesempatan kerja.
1.      Fungsi makro
Secara makro wirausaha berperan sebagai penggerak, pengendali, dan pemacu perekonomian suatu bangsa. Di amerika serikat, eropa barat, dan negara-negara di asia, kewirausahaan menjadi kekuatan ekonomi negara tertentu, sehingga negara-negara itu menjadi kekuatan ekonomi dunia yang kaya dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi. Hasil-hasil dari penemuan ilmiah, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi rekayasa telah menghasilkan kreasi-kreasi baru dalam produk barang dan jasa-jasa yang berskala global, yang merupakan hasil dari proses dinamis wirausaha yang dinamis. Bahkan para wirausahalah yang berhasil menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Peranan wirausaha melalui usaha kecilnya tidak diragukan lagi, karena :
a.       Usaha kecil dapat memperkokoh perekonomian nasional melalui berbagai keterkaitan usaha, seperti fungsi pemasok, fungsi produksi, fungsi penyalur, dan pemasar bagi hasil produk-produk industri besar.
b.      Usaha kecil dapat meningkatkan efisiensi ekonomi khususnya dalam menyerap sumber daya yang ada, dapat menyerap tenaga kerja lokal, sumber daya lokal, dan meningkatkan sumber daya manusia menjadi wirausaha-wirausaha yang tangguh.
c.       Usaha kecil dipandang sebagai sarana pendistribusian pendapatan nasional, alat pemerataan berusaha, dan pemerataan pendapatan, karena jumlahnya tersebar baik di perkotaan maupun di pedesaan.
2.      Fungsi Mikro
Secara mikro peran wirausaha adalah penanggung risiko dan ketidakpastian, mengombinasikan sumber-sumber ke dalam cara yang baru dan berbedauntuk menciptakan nilai tambah dan usaha-usaha baru. Dalam melakukan fungsi mikronya menurut marzuki usman (1977) secara umum wirausaha memiliki dua peran, yaitu sebagai penemu (innovator) dan sebagai perencana (planner).
a.       Innovator
Wirausaha berperan dalam menemukan dan menciptakan :
1.      Produk baru (the new product)
2.      Teknologi baru (the new technologi)
3.      Ide-ide baru (the new image)
4.      Organisasi usaha baru (the new organization)
b.      Planner
Wirausaha berperan dalam merancang :
1.      Perencanaan usaha (corporate plan)
2.      Strategi perusahaan (corporate strategy)
3.      Ide-ide dalam perusahaan (corporate image)
4.      Organisasi perusahaan (corporate organi-zation)
C.    Tantangan Kewirausahaan dalam Konteks Global
Dalam konteks persaingan global yang semakin terbuka seperti saat ini, banyak tantangan yang harus dihadapi.Setiap negara harus bersaing dengan menonjolkan keunggulan sumber daya masing-masing. Negara-negara yang unggul dalam sumber dayanya akan memenangkan persaingan. Sebaliknya, negara-negara yang tidak memiliki keunggulan bersaing dalam sumber daya akan kalah dalam persaingan dan tidak akan mencapai banyak kemajuan. Negara-negara yang memiliki keunggulan bersaing adalah negara-negara yang dapat memberdayakan sumber daya ekonomi dan sumber daya manusianya secara nyata.Sumber-sumber ekonomi dapat diberdayakan apabila manusia memiliki keterampilan kreatif dan inovatif. Di Indonesia, sumber daya manusia betul-betul menghadapi tantangan dan persaingan yang kompleks.
Tantangan persaingan global, pertumbuhan penduduk, pengangguran, tanggung jawab sosial, keanekaragaman ketenagakerjaan, etika, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, dan gaya hidup beserta kecenderungannya merupakan tantangan yang saling terkait. Dalam persaingan global, semua sumber daya antarnegara akan bergerak bebas melewati batas-batas yang ada. Hanya sumber daya yang memiliki keunggulanlah yang dapat bertahan dalam persaingan. Demikian juga pertumbuhan penduduk dunia yang cepat disertai persaingan yang tinggi akan menimbulkan berbagai angkatan kerja yang kompetitif dan pengangguran bagi sumber daya manusia yang tidak memiliki keunggulan dan daya saing yang kuat.
Untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut diperlukan sumber daya berkualitas yang dapat menciptakan berbagai keunggulan, baik keunggulan komparatif maupun keunggulan kompetitif, di antaranya melalui proses kreatif dan inovatif berwirausaha. kompetitif lebih ke karakter dalam berwirausaha, dimana bersaing dalam berwirausaha yang diigeluti atau yang sedang ditintis. sedangkan komparatif lebih mengembangkan sumber daya manusia.
Untuk dapat bersaing di pasar global sangat diperlukan barang dan jasa yang berdaya saing tinggi, yaitu barang dan jasa yang memiliki keunggulan-keunggulan tertentu.Untuk menghasilkan barang dan jasa yang berdaya saing tinggi diperlukan tingkat efisiensi yang tinggi.Tingkat efisiensi yang tinggi ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang tinggi, yaitu sumber daya manusia yang profesional dan terampil yang dapat menciptakan nilai tambah baru dan mampu menjawab tantangan baru.Selanjutnya, kualitas sumber daya manusia yang tinggi tersebut hanya dapat ditentukan oleh sistem pendidikan yang menghasilkan sumber daya yang kreatif dan inovatif.Sumber daya kreatif dan inovatif hanya terdapat dalam wirausaha.
cara weirausaha dalam mempertahanka wirausaha yakni sumber daya manusia yang berkualitas, pengambilan peluang yang terdekat, dalam menghadapi tantangan dengan membuat sesuatu yang baru (inovatif).





BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Wirausaha adalah kemampuan untuk berdiri sendiri, berdaulat, merdeka lahir dan batin, sumber peningkatan kepribadian, suatu proses dimana orang mengejar peluang, merupakan sifat mental dan sifat jiwa yang selalu aktif dituntut untuk mampu mengelola, menguasai, mengetahui dan berpengalaman untuk memacu kreatifitas.
Wirausaha juga memiliki dua fungsi yaitu fungsi  makro dan fungsi mikro. Secara makro wirausaha berfungsi sebagai pengerak, pengendali, dan pemacu perekonomian suatu bangsa, sedangkan secara mikro, wirausaha adalah penanggung resiko dalam ketidakpastian, pengombinasi sumber-sumber dan pencipta nilai tambah sebagai innovator, wirausaha berperan dalam menciptakan ide-ide dan organisasi usaha baru.
Profil wirausaha dapat dijabarkan sebagai berikut.
1.    Kewirausahaan Rutin ;
2.    Kewirausahaan Arbitase ;
3.     Kewirausahaan Inovatif.

B.     Saran
Penulis menyadari bahwa , dalam penyusunan makalah ini tentunya masih banyak yang prlu di benahi, walaupun kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi masih jauh dari kesempurnaan. Karena itu kritik dan saran para pembaca sangat kami harapkan, terima kasih.






Selasa, 26 Maret 2019

KEDUDUKAN DAN TUJUAN TASAWUF DALAM ISLAM


KEDUDUKAN DAN TUJUAN TASAWUF DALAM ISLAM
MAKALAH
Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah
 Pendidikan Akhlak







Di Susun Oleh:
Kelompok 6
Septi Andriani
Siti Aisyah
Siti Khotijah
Dosen Pembimbing: Saerozi, M.Pd.I
Semester: VI D


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
NURUL HIDAYAH SELATPANJANG

2019


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Ajaran Tasawuf dalam Islam, memang tidak sama kedudukan hukumnya dengan rukun-rukun Iman dan rukun-rukun Islam yang sifatnya wajib, tetapi ajaran Tasawuf bersifat sunnat. Maka Ulama Tasawuf sering menamakan ajarannya dengan istilah “Fadailu al-A’mal” (amalan-amalan yang hukumnya lebih afdal), tentu saja maksudnya amalan sunnat yang utama.
Memang harus diakui bahwa tidak ada satupun ayat atau Hadith yang memuat kata Tasawuf atau Sufi, karena istilah ini baru timbul ketika Ulama Tasawuf berusaha membukukan ajaran itu, dengan bentuk ilmu yang dapat dibaca oleh orang lain. Upaya Ulama Tasawuf memperkenalkan ajarannya lewat kitab-kitab yang telah dikarangnya sejak abad ketiga Hijriyah, dengan metode peribadatan dan istilah-istilah (simbol Tasawuf) yang telah diperoleh dari pengalaman batinnya, yang memang metode dan istilah itu tidak didapatkan teksnya dalam Al-Qur’an dan Hadith. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas tentang pengertian, kedudukan dan tujuan tasawuf dalam Islam.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut :
1)      Apa pengertian tasawuf?
2)      Bagaimana kedudukan tasawuf dalam Islam?
3)      Apa saja tujuan tasawuf dalam Islam?

C.    Tujuan
Adapun tujuannya sebagai berikut :
1)      Untuk mengetahui apa pengertian tasawuf.
2)      Untuk mengetahui bagaimana kedudukan tasawuf dalam Islam.
3)      Untuk mengetahui apa saja tujuan tasawuf dalam Islam.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Tasawuf
Secara etimologi, kata tasawuf berasal dan bahasa Arab, yaitu tashawwafa, yatashawwafu, tashawwufan. Ulama berbeda pendapat dari mana asal-usulnya. Ada yang mengatakan dari kata Shuf (bulu domba), shaff (barisan), shafa’ (        jernih), dan shuffah (serambi Masjid Nabawi yang ditempati oleh sebagian sahabat Rasulullah SAW).  Ada yang menisbahkan tasawuf berasal dari Bahasa Yunani, yaitu shopos. Istilah ini disamakan maknanya dengan kata hikmah yang berarti kebijaksanaan.[1] Dari segi kebahasaan, tasawuf menggambarkan keadaan yang selalu berorientasi kepada kesucian jiwa, mengutamakan panggilan Allah, berpola hidup sederhana, mengutamakan kebenaran, dan rela berkorban demi tujuan yang lebih mulia.
Berkenaan dengan pengertian tasawuf tersebut, berikut ini pendapat Kyai Achmad.
“Tasawuf adalah pengetahuan tentang semua bentuk tingkah laku jiwa manusia, baik yang terpuji maupun tercela; kemudian, bagaimana membersihkannya dari yang tercela itu dan menghiasinya dengan yang terpuji, bagaimana menempuh jalan kepada Allah dan berlari secepatnya menuju pada Allah.” [2]
Menurut Kyai Achmad, secara substansial tasawuf mengandung dua ajaran penting. Pertama, tasawuf mengajarkan cara pembersihan jiwa dari sifat-sifat tercela/merusak dan mengisi atau menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji, sehingga menimbulkan pengaruh-pengaruh positif pada jiwa seseorang. Kedua, tasawuf mengajarkan cara/jalan yang ditempuh untuk menjadikan jiwa tersebut bisa sampai kepada Allah secepat mungkin. Dengan kata lain, tasawuf sebenarnya mengajarkan tentang materi dan cara memempuhnya.[3]
Menurut Syaikh Islam Zakaria Al-Anshari: “Tasawuf ialah ilmu yang menerangkan cara-cara mensuci bersih jiwa, memperbaiki akhlak, dan membina kesejahteraan lahir serta batin untuk mencapai kebahagiaan yang abadi.” Menurut H. M. Amin Syukur: “Tasawuf ialah system latihan dengan kesungguhan untuk mebersihkan, mempertinggi dan memperdalam aspek kerohanian dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub) sehingga segala perhatian hanya tertuju kepada-Nya.”
Jadi, dapat disimpulakan bahwa tasawuf ialah usaha melatih jiwa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, yang dapat membebaskan manusia dari pengaruh kehidupan duniawi untuk bertaqarrub kepada Tuhan sehingga jiwanya memjadi bersih, mencerminkan akhlak mulia dalam kehidupannya, dan menemukan kebahagiaan spiritualitas.[4]
B.     Kedudukan Tasawuf dalam Islam
Setiap agama memiliki potensi untuk melahirkan bentuk keagamaan yang bersifat mistik. Dalam Islam, keagamaan yang bersifat mistik itu dikenal dengan nama tasawuf. Kaum orientalis menyebutnya sufisme. Dengan tasawuf, rasa kasih dan sayang akan selalu bersemi. Hal itu dikarenakan tasawuf merupakan elemen yang tidak mengabaikan hati.
Adapun kedudukan tasawuf dalam ajaran Islam adalah sebuah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari ajaran Islam itu sendiri. Karena memang dasar rujukan dalam tasawuf adalah al-Qur’an, al-Sunnah dan al-Atsar (peninggalan) para ulama terpercaya. Meskipun terdapat beberapa pendapat yang mengatakan bahwa hal itu tidak termasuk bagian integral dari ajaran Islam, dengan mengemukakan argumentasi sebagai berikut: 1) Tidak terdapat satupun kata Tasawuf dan Sufi dalam Al-Qur’an maupun Hadith. 2) Banyak istilah Tasawuf yang sering digunakan oleh Sufi, tidak ditemukan dalam Al-Qur’an dan Hadith. 3) Timbulnya istilah Tasawuf  dan Sufi beserta dengan ajarannya, baru dikenal pada abad ketiga Hijriyah dan 4) Ajaran Tasawuf yang diamalkan oleh orang Islam, mirip dengan ajaran Mistik yang telah diamalkan oleh umat terdahulu.
Terlepas dari itu, Intisari dari sufisme adalah kesadaran akan adanya komunikasi rohaniah antara manusia dan Tuhan. Bahkan dalam sejarah perkembangan Islam secara menyeluruh, tasawuflah yang paling banyak merebut perhatian dan hati masyarakat. Kajian-kajian tasawuf tidak lain adalah mementingkan aktivitas untuk kebersihan batin dan kesucian jiwa, mementingkan aktivitas untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT (taqarrub) dan sampai kepada-Nya. Dengan demikian, seluruh dimensi hidup dipenuhi dengan keadaan jiwa yang selalu berdzikir mulai dari lisan, anggota tubuh, peredaran darah, pikiran (akal/rasio), dan perasaan (hati serta keseluruhan aspek kejiwaan). Inilah yang membuat hidup seseorang selalu istiqamah, stabil, penuh dengan motivasi dan optimis. 
Secara Hierarki dan kedudukannya dalam ilmu – ilmu islam, tasawuf berada pada tingkatan pembentukan akhlak dan karakter manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tasawuf adalah aspek ajaran Islam yang paling penting karena peranan tasawuf merupakan jantung atau urat nadi pelaksanaan ajaran – ajaran Islam. Tasawuf inilah yang merupakan kunci kesempurnaan amaliah ajaran Islam. Memang, di samping aspek tasawuf dalam Islam  ada aspek lain, yaitu akidah dansyariah. Dengan kata lain, yang di maksud ad – din (agama) terdiri atas Islam, iman, dan ihsan, dan ketiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan.[5]
Jadi kedudukan tasawuf dalam syari`at Islam. Pertama, sebagai metode atau jalan untuk mendapatkan kelezatan dalam beribadah, karena tasawuf dipandang sebagai salah satu metode untuk mendapatkan hal tersebut, sehingga kelezatan ibadah tidak akan didapat apabila orang-orang muslim tidak bertasawuf. Kedua, sebagai metode untuk mencapai derajat ihsan, karena tasawuf mempunyai sumber dan landasan yang kokoh, kuat dari ajaran Islam. Ketiga, tasawuf sebagai sarana memperkuat mental, ketabahan dalam beribadah. Keempat, tasawuf sebagai landasan dalam mengaplikasikan rasa syukur baik syukur secara lisan, tingkah laku atau kemantapan hati dalam melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah. Dan Kelima, tasawuf sebagai ruang untuk menilai dan mempelajari serta menelaah kelemahan diri didalam melaksanakan kewajiban atau perbuatan baik dan kesukaran dalam menjauhi serta meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Islam.[6]
C.    Tujuan Tasawuf dalam Islam
Ada beberapa tujuan dari tasawuf. Menurut A. rivay Siregar, secara umum tujuan terpenting dari sufi adalah berada sedekat mungkin dengan Allah. Akan tetapi, apabila memperhatikan karakteristik tasawuf secara umum terlihat adanya tiga sasaran “antara” dari tasawuf, yaitu sebagai berikut. Pertama, tasawuf yang bertujuan pembinaan aspek moral. Aspek ini meliputi mewujudkan kestabilan jiwa yang berkesinambungan, penguasaan dan pengendalian hawa nafsu sehingga manusia konsisten kepada keluhuran moral. Kedua, tasawuf yang bertujuan ma’rifatullah melalui penyimpakapan langsung. Ketiga, tasawuf yang bertujuan membahas bagaimana sistem pengenalan dan pendekatan diri kepada Allah.[7]
Tujuan akhir dari sufisme adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak mutlak Tuhan, karena dialah penggerak utama dari semua kejadian di ala mini dan penanggalan secara total semua keinginan pribadi dan melepas diri dari sifat-sifat buruk yang berkenaan dengan kehidupan duniawi serta pemusatan diri pada perenungan terhadap Tuhan semata, tiada yang dicari kecuali dia. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa ilmu tasawuf merupakan tuntunan yang dapat menyampaikan manusia mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.







BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Tasawuf ialah usaha melatih jiwa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, yang dapat membebaskan manusia dari pengaruh kehidupan duniawi untuk bertaqarrub kepada Tuhan sehingga jiwanya memjadi bersih, mencerminkan akhlak mulia dalam kehidupannya, dan menemukan kebahagiaan spiritualitas.
Setiap agama memiliki potensi untuk melahirkan bentuk keagamaan yang bersifat mistik. Dalam Islam, keagamaan yang bersifat mistik itu dikenal dengan nama tasawuf. Kaum orientalis menyebutnya sufisme. Kajian-kajian tasawuf tidak lain adalah mementingkan aktivitas untuk kebersihan batin dan kesucian jiwa, mementingkan aktivitas untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT (taqarrub) dan sampai kepada-Nya.
Tujuan akhir dari sufisme adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak mutlak Tuhan, karena dialah penggerak utama dari semua kejadian di ala mini dan penanggalan secara total semua keinginan pribadi dan melepas diri dari sifat-sifat buruk yang berkenaan dengan kehidupan duniawi serta pemusatan diri pada perenungan terhadap Tuhan semata, tiada yang dicari kecuali dia.
B.     Saran
Kami mengharabkan kepada pembaca untuk lebih mempelajari secara mendalam tentang kedudukan dan tujuan tasawuf dalam islam, karena kami merasa makalah ini kurang lengkap dan kurang sempurna. Untuk itu kami sebagai pemapar makalah sangat mengharabkap kritikan atau saran dari kawan-kawan demi membaiknya makalah ini.



DAFTAR PUSTAKA

Abdul Halim Mahmud, 2001, Tasawuf di Dunia Islam, Bandung: Pustaka Setia.
Achmad Siddiq, 1999, Menghidupkan Ruh Pemikiran, Jakarta.
Samsul Munir Amin, 2017, Ilmu Tasawuf, ed. 1, cet. 4, Jakarta: Amzah.
Syamsun Ni’am, 2008, The Wisdon of K.H. Achmad Siddiq: Membumkan Tasawuf, Jakarta: Erlangga.
http://nurhayatiyaya.blogspot.com/.






[1]Samsul Munir Amin, 2017, Ilmu Tasawuf, ed. 1, cet. 4, Jakarta: Amzah, h. 3.
[2]Syamsun Ni’am, 2008, The Wisdon of K.H. Achmad Siddiq: Membumkan Tasawuf, Jakarta: Erlangga, h. 104.
[3]Ibid, h. 105.
[4]Samsul Munir Amin, op.cit, h. 8-9.
[5]Abdul Halim Mahmud, 2001, Tasawuf di Dunia Islam, Bandung: Pustaka Setia,  h. 299.
[6]Achmad Siddiq, 1999, Menghidupkan Ruh Pemikiran, Jakarta, h. 77.
[7]Samsul Munir Amin, op.cit, h. 58.

WIRAUSAHA : PELUANG USAHA

BAB I PENDAHULUAN A.            Latar Belakang Seseorang yang berkemauan keras dalam melakukan suatu tindakan demi memperoleh suat...